Coming Soon

Eastern Indonesia – International Conference on Energy Transition and Critical Mineral

Dalam beberapa tahun terakhir, isu transisi energi menjadi salah satu agenda strategis global seiring meningkatnya urgensi penanganan perubahan iklim dan komitmen menuju Net Zero Emission (NZE). Indonesia sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia memiliki peran yang sangat krusial dalam rantai pasok energi bersih, khususnya dalam mendukung pengembangan baterai kendaraan listrik dan teknologi energi terbarukan.

Saat ini Indonesia memiliki sumber daya logam nikel 140,3 juta ton, serta cadangan logam nikel 49,26 juta ton. Cadangan terbesar terletak di Kawasan Timur Indonesia meliputi: Sulawesi Tenggara (20,45 juta ton), Maluku Utara (16 juta ton), Sulawesi Tengah (9,6 juta ton), Sulawesi Selatan (2,12 juta ton), dan Papua Barat (880.559 ton).

Hingga April 2024, terdapat 330 Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel yang tersebar di Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Namun dibalik potensi besar tersebut, sektor industri nikel menghadapi tantangan signifikan terkait tingginya intensitas emisi karbon dalam proses produksi dan pengolahannya.

PLTU Captive batubara di kawasan industri nikel terutama di Sulawesi dan Maluku Utara melonjak pesat sejak kebijakan hilirisasi nikel. PLTU Captive Batubara masih menjadi sumber energi yang diandalkan oleh industri nikel dengan kapasitas mencapai 15.405 MW pada tahun 2025. Dalam kurun waktu lima tahun (2019–2024), kapasitas nasional melonjak dari 5–6 GW menjadi lebih dari 16 GW.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *